Jumat, 19 Oktober 2012 - 0 komen yuk

Persepsi Sosial

A. Pengertian Persepsi Sosial
Secara umum,  persepsi ialah sebuah proses mengetahui, menafsir atau mengenali objek dan kejadian objektif dengan bantuan panca indra. Apa yang diperoleh, dipilih dan diatur adalah informasi indrawi dari lingkungan sosial serta yang menjadi fokusnya adalah oranglain. Secara umum, persepsi sosial adalah aktivitas mempersepsikan oranglain untuk kemudian dapat memprediksi apa yang membuat ia dikenal, melalui persepsi sosial kita berusaha mencari tau dan mengenali oranglain. Sebagai bidang kajian, persepsi sosial adalah studi terhadap bagaimana orang membentuk kesan dan membuat kesimpulan tentang oranglain (Teiford, 2008). Teori-teori dan penelitian persepsi sosial berurusan dengan kodrat, penyebab-penyebab, dan konsekuensi persepsi terhadap satuan-satuan sosial, seperti diri sendiri, individu lain, kategori-kategori sosial, dan kumpulan atau kelompok. Isi dari persepsi bisa berupa apa saja. Atribut-atribut individual dapat mencakup kepribadian, sifat-sifat, disposisi tingkah laku, karakteristik fisik dan kemampuan menilai. Atribut-atribut kelompok dapat mencakup properti-properti seperti ukuran, kelekatan, sifat-sifat budaya, pola stratifikasi, pola-pola jaringan, legitimasi, dan unsur-unsur sejarah.


B. Persepsi Sosial Sebagai Proses
Persepsi sosial merupakan proses yang terjadi didalam diri kita sebagai cikal bakal untuk mengetahui dan mengenali serta pada akhirnya kita membentuk kesan terhadap oranglain. Kesan yang kita bentuk didasarkan pada informasi yang tersedia dilingkungan, sikap kita yang terdahulu tentang rangsang – rangsang yang relevan, dan mood kita saat ini. Dalam psikologi sosial, kecenderungan untuk menilai baik oranglain dari penampilannya terlebih dahulu, dikenal dengan efek halo. Namun, disisi lain kita juga dapat menilai orang yang berpenampilan tidak rapi, berambut gondrong dan acak – acakkan serta gaya bicaranya yang ceplas ceplos. Apa yang pertama kali ditampilkan oleh seseorang secara fisik dapat mempengaruhi cara kita untuk menilai aspek psikologisnya.
Proses persepsi sosial dimulai dari pengenalan terhadap tanda – tanda nonverbal atau tingkah laku nonverbal yang ditampilkan orang lain. Tanda  - tanda nonverbal ini merupakan informasi yang dijadikan bahan untuk menganali dan mengerti oranglain secara lebih jauh. Dari informasi – informasi nonverbal, kita membuat penyimpulan – penyimpulan tentang apa yang kira – kira sedang dirasakan dan dipikirkan orang lain. Kemudian, ungkapan – ungkapan verbal melengkapi penyimpulan penyimpulan dari tanda – tanda nonverbal. Dari tingkah laku verbal dan nonverbal inilah kita dapat membentuk kesan terhadap orang lain. Asch (1946) menunjukkan bahwa orang melakukan persepsi terhadap sifat – sifat dalam hubungannya satu sama lain, sehingga sifat sifat itu dipahami sebagai bagian yang terintegrasi dengan kepribadian orang yang memilikinya.
Pembentukan kesan didasari oleh kegiatan atribusi. Dalam proses persepsi sosial, atribusi merupakan langkah awal dari pembentukkan kesan. Istilah atribusi secara umum merujuk pada proses mengenali penyebab dari tingkah laku orang lain dan sekaligus memperoleh pengetahuan tentang sifat – sifat serta disposisi – disposisi yang menetap pada oranglain (lihat  diantaranya Heider, 1958; Jones & Davis, 1965; Kelley, 1972; Graham & Folkes, 1990; Read & Millerr, 1998).

C. Tingkah Laku dan Komunikasi Nonverbal
Ketika kita ingin mengetahui tentang apa yang sedang dipikirkan dan dirasakan orang lain, kita berusaha untuk mencari informasi sebanyak banyaknya tentang orang tersebut. Cara mendapatkan informasi tersebut juga beraneka ragam, bisa dengan bertanya dengan orang – orang terdekatnya atau dengan mengamati gerak gerik atau perilaku nonverbal serta mengandalkan informasi verbal dari individu tersebut. Namun, ketika kita sangat mengandalkan informasi verbalnya, terkadang informasi yang kita dapatkan tersebut tidak sesuai dengan apa yang sebenarnya ia pikirkan dan ia rasakan. Dalam keadaan seperti itu, untuk memahami orang lain kita mengandalkan informasi yang ditampilkan oleh penampilan fisik mereka.
Tingkah laku nonverbal dapat membantu kita untuk mencapai beragam tujuan (Patterson, 1983) sebagai berikut :
1.   Tingkah laku nonverbal menyediakan informasi tentang perasaan dan niat secara ajek.
2.   Tingkah laku nonverbal dapat digunakan untuk mengatur dan mengelola interaksi.
3.  Tingkah laku nonverbal dapat digunakan untuk mengungkapkan keintiman, misalnya melalui sentuhan, rangkulan, dan tatapan mata.
4.  Tingkah laku nonverbal dapat digunakan untuk menegakkan dominasi atau kendali, seperti kita kenal dalam ancaman nonverbal seperti mata melotot, rahang yang dikatupkan rapat-rapat, dan gerakan-gerakan yang diasosiasikan sebagai tindakan agresif tertentu.
5.  Tingkah laku nonverbal dapat digunakan untuk memfasilitasi pencapaian tujuan, dengan cara menunjuk, memberi tanda pujian dengan mengangkat jempol, dan menampilkan senyum.
Aktivitas saling mengenali melalui tingkah laku nonverbal disebut dengan komunikasi nonverbal. Komunikasi nonverbal didefinisikan sebagai cara orang berkomunikasi tanpa kata – kata baik secara sengajar maupun tidak sengaja. Dalam komunikasi nonverbal, kita mengamati tekanan suara, sentuhan, gestur (gerakan – gerakan), ekspresi wajah, dan tanda – tanda nonverbal. Dalam kehidupan sehari hari, kita sering melakukan komunikasi nonverbal sebagai contoh adalah ketika kita hendak berpisah dengan orangtua, teman atau kekasih, kita melambaikan tangan kepadanya, itu adalah salah satu bentuk komunikasi nonverbal. Atau ketika kita tertarik dengan lawan jenis, kita juga sering menggunakan komunikasi nonverbal seperti tatapan wajah, senyuman dan ekspresi wajah yang menunjukkan kekaguman kepada orang tersebut. Penelitian – penelitian tentang tingkah laku dan komunikasi nonverbal banyak dilakukan oleh psikolog sosial (diantaranya Ekman & Frieson, 1974; Izard, 1991; Keltner, 1995; Forest & Fieldma, 2000; Neumann & Strack, 2000; DePaulo et all, 2003). Dari penelitian – penelitian tersebut diperoleh pemahaman bahwa tanda – tanda nonverbal yang ditampilkan oranglain dapat mempengaruhi perasaan kita.

D. Saluran Komunikasi Nonverbal
Ketika orang mengalami perasaan tertentu, apa yangnmereka rasakan terlihat dalam tingkah laku nonverbal mereka. Secara sadar atau tidak, mereka menyalurkan apa yang mereka pikirkan dan rasakan melalui bagian bagian tubuh tertentu dan aktivitas – aktivitas nonverbal pada bagian – bagian tubuh itu disebut dengan saluran saluran nonverbal.

 E. Ekspresi Wajah Sebagai Tanda dari Emosi Orang Lain
Melalui ekspresi wajah, kita dapat memahami dan mengerti kondisi emosional orang lain. Penelitian – penelitian tentang hubungan antara ekspresi wajah dengan emosi menunjukkan bahwa ada lima emosi dasar yang secara jelas diwakili oleh ekspresi wajah : marah, takut, bahagia, kaget, jijik (Izard, 1991; Rozin, Lowery, & Ebert, 1994). Riset – riset awal tentang ekspresi emosi memberikan hasil yang memperkuat pernyataan bahwa ekspresi wajah adalah universal (seperti yang dikemukakan oleh Ekman & Friensen, 1975).Akan tetapi adapula yang beranggapan bahwa ekspresi wajah tidak universal seperti yang dikemukakan oleh Russel pada tahun 1996. Perbedaan budayapun ikut berperan dalam menentukan ekspresi wajah seperti yang ditampilkan pada situasi emosional tertentu (Baron, Byrne & Branscombe, 2006).




F. Kontak Mata Sebagai Tanda Nonverbal
Kontak mata menyediakan informasi sosial dan emosional (Zimbardo, 1997;Kleinke, 1986). Dalam kehidupan sehari sehari, tidak bisa dipungkiri kita sering melakukan hal yang melibatkan kontak mata, seperti ketika kita sedang berbicara dengan orang lain, kita sering melakukan kontak mata sebagai salah satu cara untuk mengetahui keadaan emsional lawan bicara. Kontak mata juga bisa dijadikan tanda ketika seseorang ingin mengenal kita lebih jauh lagi.

G. Gerak Gerik, Gerakan Badan, dan Postur
Umumnya orang menampilkan gerakan badan yang berbeda pada saat marah dengan pada saat sedih. Orang mengubah gerakan badannya ketika perasaannya berubah. Gerakan badan mencerminkan keadaan emosionalnya. Sebagai salah satu saluran nonverbal, gerakan badan memberikan tanda-tanda nonverbal sehingga dapat mengenali dan mengerti keadaan emosional orang lain. Perpaduan posisi tubuh, gerakan badan, dan postur biasa disebut juga bahasa tubuh (body language). Banyak nya gerakan yang dilakukan seseorang dapat memberi kita petunjuk tentang keadaan terangsang yang sedang dialami orang tersebut. Gerakan dalam jumlah besar dan berulang-ulang (menyentuh, menghentak, menggaruk) yang ditampilkan seseorang menunjukkan bahwa orang itu dalam keadaan terangsang (contonhya : menghasrati objek seksual, bersemangat, gatal). Gerakan-gerakan kecil (gesture) yang berulang-ulang dapat mencerminkan perasaan cemas dari orang yang melakukannya.Gerakan besar yang melibatkan seluruh tubuh dapat juga menjelaskan perasaan orang yang menampilkannya (Aronoff, Woike, & Hyman, 1992). Gesture dapat memberikan informasi yang lebih banyak tentang perasaan orang lain, salah satu yang terpenting dari gesture adalah emblem, yaitu gerakan tubuh yang membawa makna khusus dalam budaya tertentu.

H. Sentuhan
Sentuhan orang lain kepada kita, dapat membantu memahami apa yang dirasakan orang lain terhadap kita. Sentuhan bisa menjadi petunjuk dari afeksi, kepedulian, minat seksual, dominasi, atau agresi. Pemahaman terhadap apa yang hendak diungkapkan melalui sentuhan tergantung dari beberapa faktor yang terkait dengan : 1) siapa yang menampilkan sentuhan;  2) jenis kontak fisik; dan 3) konteks yang ada pada saat sentuhan ditampilkan. Pada masyarakat Barat, sentuhan sering kali menghasilkan reaksi positif pada orang yang disentuh (Alagna, Whitcher, & Fisher, 1979; Smith, Gier, & Willis, 1982). Sedangkan pada masyarakat lain, reaksi terhadap sentuhan bisa berbeda. Salah satu bentuk sentuhan yang sering kita temui ialah berjabat tangan ketika berjumpa. Dari informasi tentang bagaimana orang berjabat tangan, ada banyak pengetahuan yang didapat tentang orang lain. Jabat tangan yang mantap merupakan cara yang baik untuk memberikan kesan positif terhadap orang lain (Chaplin, et al, 2000). Semakin mantap dan lama jabat tangan dilakukan, semakin kuat kesan positif yang dihasilkan.

I. Komunikasi Nonverbal melalui Multi – saluran
Dalam kehidupan sehari hari kita dapat menerima informasi dari berbagai sumber dan saluran dalam waktu bersamaan. Acher dan Akert (1991) menunjukkan bahwa orang mampu menafsirkan tanda – tanda yang ditampilkan melalui beragam saluran komunikasi nonverbal dengan cukup tepat, dengan memanfaatkan berbagai tanda meski ada perbedaan pada beberapa tipe individu.

Referensi : Psikologi Sosial, Sarlito W Sarwono

0 komen yuk:

Poskan Komentar