Jumat, 19 Oktober 2012 - 0 komen yuk

Pengenalan Psikologi Sosial


A. Sejarah Psikologi Sosial

Sebuah artikel tentang penelitian Warnaen menunjukkan bahwa psikologi sosial di Indonesia telah ada lebih dari 3 dasawarsa. Diluar Indonesia, psikologi sosial jika dilhat dari tahun kelahirannya bisa jadi lebih dulu lahir dibanding psikologi itu sendiri. Psikologi dianggap berdiri pada tahun 1879 sejak adanya percobaan laboratorium psikologi oleh Wundt, sedangkan psikologi sosial dianggap lahir pada pertengahan abad ke 19 bertepatan dengan munculnya konsep psikologi sosial yang disebut sebagai folk psychologist, kemudian pada tahun 1860 terbentuklah sebuah jurnal yang mengupas masalah teoritis dan faktual yang dibentuk oleh Lazarus dan Seinthal yang disebut Volkerpsychologie (Vaughan dan Hogg, 2002)
Tulisan yang paling sering dianggap sebagai cikal bakal psikologi sosial adalah tulisan “kembar” yang ditulis oleh William McDougall dan Ross. Dikatakan kembar karena tulisan tersebut memiliki judul yang sama serta dibentuk pada tahun yang sama pula. Perbedaan kedua tulisan ini terdapat pada cara pandang penulis terhadap psikologi sosial. McDougall menekankan bahwa tingkah laku sosial merupakan perwujudan insting sedangkan Ross melihat tingkah laku sosial dalam padangan sosiologi (Vaughan dan Hogg, 2002, Baron dan Byrne, 1994). Tulisan lain yang dianggap fenomenal adalah tulisan dari Floyd Allport pada tahun 1924 dan argumentasinya terbukti bahwa tingkah laku sosial berakar dari berbagai faktor, mulai dari kehadiran oranglain hingga penggunaan metode eksperimental untuk penelitian psikologi sosial.
Pasca perang dunia II mulai bermunculan penelitian penelitian yang didasarkan pada kejadian perang dunia II, tokoh yang lahir pada masa ini diantaranya adalah Leon Festinger yang dikenal dengan teori disonansi kognitif, Kurt Lewin dengan teori lapangannya serta Migram, Solomon dan Asch. Kurt lewin yang merupakan salah satu tokoh psikologi sosial, terkenal dengan rumusan teoritis tingkah laku yang menyatakan bahwa perilaku (behavior) merupakan hasil interaksi antara individu dengan lingkungannya.
Pada tahun 1960 – 1970 mencul kekhawatiran bahwa psikologi sosial menjadi terlalu reduksionis dan posivistik, reduksionis ialah segi pandangan yang berpendirian, bahwa metode yang benar untuk dipakai dalam usaha memahami suatu gejala adalah menganalisis gejalanya atau menyederhanakan sampai dengan komponen komponennya. Sedangkan posivistik adalah penerimaan non kritis sebagai satu pengetahuan yang didapat sebagai kebenaran tunggal tanpa adanya gugatan (Vaughan dan Hogg, 2002). Hal ini dapat menimbulkan salah paham dalam menjelaskan berbagai hal yang berkaitan dengan psikologi sosial.
Tahun 1970 – 1980-an merupakan puncak dari perkembangan psikologi sosial, topik topik penelitiannya juga semakin berkembang seperti atribusi, sikap, psikologi politik dan lain sebagainya. Dimasa depan, penelitian akan mengarah pada kognisi dan penerapan psikologi sosial dengan menggunakan perspektif kebudayaan. Faktor kognisi yang berupa atribusi, sikap, strereotip, prasangka dan disonansi kognitif (Baron dan Byrne, 1994; Glassman dan Hadad, 2004) adalah konsep dasar dari tingkah laku sosial manusia.


B. Perkembangan Psikologi Sosial di Indonesia

Perkembangan psikologi sosial di Indonesia dimulai pada tahun 1967 diawali dengan munculnya bagian psikologi sosial di  Universitas Indonesia kemudian ditahun yang sama fakultas psikologi Universitas Indonesia mengembangkan bagian psikologi sosial dan kemudian menghasilkan para peneliti awal psikologi sosial di Indonesia. Peneliti peneliti psikologi sosial inilah yang kemudian menelaah kondisi di Indonesia. Misalnya, kondisi di Indonesia yang beragam dapat menarik perhatian Suwarsih Warnaen sehingga beliau menulis penelitiannya tentang stereotip beberapa etnis di Indonesia dan sempat menggemparkan masyarakat pada tahun 1979.

Teori psikoanalisa dari Sigmund Freud dan teori belajar dari Pavlov, Skinner, dan Bandura seakan menunjukkan adanya universalitas psikologi. Psikologi sosial juga memiliki gejala yang sama, namun penelitian penelitian selanjutnya memperlihatkan adanya pola yang tidak universal. Contoh gugatan terhadap universalitas teori dalam psikologi adalah temuan B. Malinowski, antropolog yang melakukan penelitian di kepulauan Trobriand di Samudra Pasifik, yang mulai memperlihatkan peran budaya. Ketika  berada di kepulauan Trobriand, Malinowski memperlihatkan hubungan antara anak lelaki dan ayahnya. Dalam pemahamannya, sesuai dengan pendapat Freud, seharusnya anak laki laki disana mengalami oedipus kompleks. Pada kenyataannya tidak di temukan gejala itu. Oleh karena itu ia mempunyai argumentasi untuk tidak menerima universalitas oedipus kompleks (Kottak, 2006).
Selain kebudayaan, faktor lingkungan hidup manusia juga perlu diperhatikan.Hal yang sering diperbincangan di Indonesia atau bahkan menjadi sebuah informasi yang bersifat turun temurun seperti orang orang yang tinggal didaerah Sumatra memiliki watak dan gaya bicara yang lebih keras dibandingkan dengan orang jawa, atau masyarakat pesisir yang lebih dikenal dengan sifatnya yang ekspresif dalam emosi dan perilaku dibanding masyrakat yang tinggal di pedalaman. Hal tersebut rupanya menjadi dasar pemikiran Diamond (1997, dalam Harrison, 2006) yang menyebutkan perbedaan antar bangsa bukan dikarenakan perbedaan kodrati dari bangsa - bangsa itu sendiri, tetapi juga dipengaruhi oleh perbedaan lingkungan.

C. Definisi Psikologi Sosial

Psikologi sosial ialah psikologi yang terkait dengan sosial. Sosial berarti interaksi atau hubungan individu dengan individu, individu dengan kelompok atau kelompok dengan kelompok sedangkan psikologi ialah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia. Jadi, psikologi sosial adalah ilmu yang mempelajari tentang perilaku manusia yang terkait dengan interaksi individu dengan individu, individu dengan kelompok serta kelompok dengan kelompok. Adapula pendefinisian psikologi sosial menurut beberapa pakar psikologi sosial, yaitu :
1.   Menurut Sherif dan Muzfer (1956), psikologi sosial adalah ilmu tentang pengalaman dan perilaku individu dalam kaitannya dengan situasi stimulus sosial. Dalam hal ini, stimulus sosial bukan hanya diartikan manusia, tetapi juga hal serta benda – benda lain yang diberi makna sosial
2.   Menurut Allport (1968), psikologi sosial adalah upaya untuk memahami dan menjelaskan bagaimana pikiran, perasaan dan perilaku individu terpengaruh oleh kehadiran oranglain.
3.   - Menurut Shaw & Constanzo (1970), psikologi sosial adalah ilmu pengetahuan yang mempelajari perilaku individual sebagai fungsi stimulus – stimulus sosial.
4.   - Menurut Baron & Byrne (2006), psikologi sosial adalah bidang ilmu yang mencari pemahaman tentang asal mula dan penyebab terjadinya pikiran serta perilaku individu dalam situasi situasi sosial.
Psikologi sosial merupakan ilmu psikologi yang terbilang muda dibandingkan dengan cabang ilmu psikologi lainnya. Kaidahnya sebagai ilmu membuat psikologi sosial harus taat pada disiplin ilmu dan tidak bisa hanya sekedar mengandalkan akal sehat (common sense). Kesimpulan yang hanya didasarkan pada akal sehat dapat berujung dengan kesalahah pahaman serta kesalahan pula dalam bertindak. Dibalik itu semua, akal sehat mempunyai kegunaan dibandingkan dengan tidak menggunakan akal sama sekali. Namun, akal sehat juga mempunyai beberapa kendala, diantaranya adalah confirmation bias yang berarti membenarkan pendapat sendiri tanpa menghiraukan pendapat atau fakta fakta lain yang terkait dengan hal tersebut. Kendala yang kedua ialah berpikir heuristik, yaitu mengikuti pikiran yang pertama kali muncul didalam benak tanpa berusaha menelaah untuk kemudian dapat merubah pandangannya tersebut. Sebagai contoh, orangtua yang melarang anaknya untuk menikah dengan seorang personil band yang menurut mereka identik dengan penghasilan yang rendah dan tidak menetap, padahal banyak personil band seperti Pasha ungu, Giring nidji dan masih banyak lagi yang mempunyai penghasilan tinggi dan menetap. Kendala akal sehat yang terkahir adalah pengaruh perasaan atau biasa dikenal dengan mood effect. Emosi manusia selalu mempengaruhi akalnya, misalnya orang yang sedang marah, bimbang, dan kecewa biasanya akan memandang segala sesuatu dari sisi yang negatif, semua pandangan positifnya hilang dikarenakan emosi yang sedang ia rasakan, Begitu pula sebaliknya, apabila seseorang sedang bergembira, biasanya ia selalu memandang segala sesuatu dari sisi yang positif dan mengabaikan pandangan pandangan negatif yang sesekali menghampiri.
Dari hal hal tersebutlah terbentuk suatu alasan mengapa psikologi sosial tidak hanya mengandalkan akal sehat. Akal sehat sangat rentan dan dapat berujung pada kesalah pahaman pemikiran dan dan akhirnya membuahkan kesalahan dalam betindak.

Referensi : Buku psikologi sosial, Sarlito W Sarwono.

0 komen yuk:

Poskan Komentar